PELUANG PATEN UNTUK OBAT DAN TERAPI BERBASIS SUMBER DAYA GENETIK

obat terapi

PELUANG PATEN UNTUK OBAT DAN TERAPI BERBASIS SUMBER DAYA GENETIK

Oleh Ferianto, S.Si., M.H.

 

Metode terapi pengobatan memang dikecualikan dari patentabilitas, tetapi produk atau komposisi yang digunakan dalam metode tersebut dapat dipatenkan. Penemuan dalam bentuk produk atau bahan atau komposisi dalam bidang terapi pengobatan meliputi tiga kemungkinan yaitu produk atau komposisi baru yang memiliki fungsi teknis tertentu; penggunaan pengobatan pertama dari senyawa yang sudah dikenal; dan penggunaan pengobatan kedua dari senyawa yang sudah dikenal. Berkaitan dengan penggunaan baru dari senyawa atau bioaktif tertentu, UU No 13 Tahun 2016 Tentang Paten (UUP) menyatakan bahwa untuk penggunaan baru harus dari senyawa yang belum dikenal sebelumnya atau jika sudah dikenal harus memiliki perubahan struktur dan peningkatan khasiat bermakna.

Baca Juga : Sistem Pendaftaran Paten di Indonesia

Hal ini penting untuk menghindari terlalu lamanya pelindungan paten atas obat berbahan aktif senyawa tertentu. Misalkan senyawa X memiliki fungsi menurunkan demam dilindungi paten selama 20 tahun. Sebelum habis masa pelindungannya, senyawa X didaftarkan penggunaan baru untuk penurun hipertensi. Menurut ketentuan UUP, invensi yang seperti ini tidak dilindungi. Hal ini menunjukkan negara semakin memberikan keadilan dan akses kepada masyarakat untuk memperoleh akses obat berbahan dasar hayati serta mencegah itikad baik inventor untuk memperlama masa pelindungan namun dengan tidak ditunjukkan pembuktian ilmiah secara signifikan.

Suatu invensi harus dianggap dapat diaplikasikan dalam industri apabila dapat dibuat atau digunakan dalam jenis industri apapun. Metode pengobatan tubuh manusia atau hewan melalui tindakan bedah atau terapi atau diagnosa yang dipraktikkan pada tubuh manusia atau hewan tidak dianggap dapat diaplikasikan dalam industri meskipun hal ini tidak menghalangi pendaftaran paten obat yang akan digunakan dalam pengobatan atau diagnosa tersebut. Berkaitan dengan obat tradisional khususnya, yang memungkinkan untuk potensi mendapatkan paten adalah temuan senyawa bioaktif baru dari tanaman obat yang belum dikenal sebelumnya, efek farmakologi yang belum dikenal sebelumnya baik farmakologi modern maupun pengobatan tradisional, metode ekstraksi baru untuk mendapatkan senyawa bioaktif tertentu, sistem pembuatan obat baru yang belum dikenal sebelumnya, atau metode standardisasi senyawa-senyawa dari tanaman obat.

 

 

 

MEMAHAMI SISTEM PENDAFTARAN PATEN DI INDONESIA

pendaftaran paten

MEMAHAMI SISTEM PENDAFTARAN PATEN DI INDONESIA

Oleh Ferianto, S.Si., M.H.

 

Sistem pendaftaran Paten di Indonesia menganut sistem stelsel konstitutif yang artinya untuk mendapatkan pelindungan paten, maka invensi harus didaftarkan. Ketiadaan upaya mendaftarkan paten atas invensi maka invensi tersebut tidak akan mendapatkan perlindungan hukum. Berikut ini adalah tahapan pendaftaran paten menurut Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Paten :

 

Tahapan Permohonan Paten

Permohonan pendaftaran paten harus disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa si pemohon dengan disertai terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Surat permohonan harus ditandatangi oleh pemohon sendiri dan harus disebut dalam surat berupa nama, alamat dan kebangsaan pemohon. Surat demikian harus dipenuhi pula apabila pemohon diajukan oleh seseorang yang bertindak bagi dan atas nama pemohon selaku kuasannya.

Tahapan Pengumuman

Pengumuman dilakukan dengan menempatkan dalam Berita Resmi Paten yang ditebritkan secara berkala oleh Direktorat Jenderal dan/atau menempatkannya pada sarana khusus yang disediakan oleh Direktorat Jenderal yang dengan mudah serta jelas dapat dilihat oleh masyarakat. Hal ini dilakukan oleh pemerintah guna memberikan kesempatan kepada masyarakat, apakah ada yang merasa keberatan terhadap invensi yang akan diajukan pelindungan paten.

Tahapan Pemeriksaan Substantif

Pemeriksaan substansif dilaksanakan oleh pemeriksa yang merupakan tenaga ahli yang sudah disiapkan oleh kantor Dirjen KI. Pemeriksaan juga dapat dilakukan oleh ahli yang berasal dari instansi lain melalui pengangkatan yang dilakukan oleh Menteri. Persetujuan atau Penolakan Permohonan Menteri memberikan untuk menyetujui atau menolak permohonan paling lama 30 (tiga puluh) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya surat permohonan pemeriksaan susbtantif apabila permohonan pemeriksaan substantif diajukan setelah berakhirnya waktu pengumuman.

Keputusan Persetujuan atau Penolakan Paten

Apabila terjadi keputusan penolakan paten, maka pemohon dapat mengajukan permohonan banding keberatan kepada komisi banding paten. Permohonan banding dapat dilakukan apabila pemohon paten keberatan terhadap keputusan penolakan permohonan oleh Dirjen HAKI. Permohonan banding dapat diajukan ke Komisi Banding Paten dengan tembusan yang disampaikan kepada Menteri. Upaya hukum selanjutnya apabila permohonan banding ditolak adalah mengajukan gugatan ke pengadilan niaga, dan bisa dilanjutkan ke upaya hukum Kasasi.

Baca Juga : Memahami dan Memperoleh Perlindungan Paten

Pemberian Sertifikat Paten

Sertifikat paten merupakan bukti hak atas paten yang didapat oleh pendaftar paten. Hak atas paten sebagaimana dimaksud ditentukan lingkup pelindungan berdasar invensi yang diuraikan dalam klaim. Hak atas paten merupakan benda bergerak tidak berwujud. Selain itu pelindungan paten dibuktikan dengan dikeluarkannya sertifikat yang berlaku surut sejak tanggal penerimaan.

 

 

MEMAHAMI PRINSIP PERLINDUNGAN MEREK

merek

MEMAHAMI PRINSIP PERLINDUNGAN MEREK

Oleh Ferianto, S.Si., M.H.

 

Merek merupakan tanda yang membedakan barang atau jasa dari satu produsen dengan barang atau jasa yang sejenis yang diproduksi oleh produsen lain. Tanda yang menjadi identitas suatu produk inilah yang biasa disebut etiket merek yang menjadi acuan untuk pendaftaran merek. Tanda tersebut adalah murni kreativitas dari seseorang atau pihak untuk membuat suatu nama dagang atau merek yang unik, menarik, identitas yang memudahkan konsumen mengenal produknya dan tentu ssaja memiliki perbedaan dengan nama dagang atau merek atas produk sejenis yang lain. Kreativitas membuat tanda untuk produk dapat bersumber dari gambar, nama, kata, huruf, angka, warna, suara, bau, susunan warna, kombinasi dari unsur-unsur tersebut. Bahkan bentuk 2 atau 3 dimensi dari suatu produk yang menjadi identitas dari produk tersebut dapat didaftarkan sebagai merek. Misalnya, bentuk sebuah botol dapat menjadi identitas dari produk kemasan botol yang bersangkutan untuk membedakan dengan produk sejenis dari pihak lain.

Mengacu pada UU No. 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis, memuat prinsip dan ketentuan bahwa perlindungan hukum atas merek adalah selama kurun waktu 10 tahun dan dapat diperpanjang. Hal ini tentu menguntungkan pelaku bisnis bahwa selama merek tersebut secara bisnis menguntungkan maka pelaku usaha yang memiliki merek tidak perlu khawatir akan kadaluarsanya perlindungan merek selama pelaku usaha tetap melakukan perpanjangan merek setiap 10 tahun. Merek adalah satu-satunya jenis HKI yang memberikan kesempatan untuk memperpanjang masa perlindungan hukumnya.

Baca Juga : (HKI) Sebagai Aset Tak Berwujud Untuk Kegiatan Perdagangan

Prinsip lain adalah perlindungan merek diprioritaskan kepada pihak yang paling dahulu mendaftar (first to file) kecuali ada pihak lain yang dapat membuktikan sebaliknya. Hal ini perlu dicermati para pelaku bisnis untuk tidak terlena mendaftarkan merek sebagai salah satu prioritas awal saat memulai usaha daripada akan mengalami permasalahan merek di kemudian hari yang akan berdampak pada kelangsungan usahanya. Tidak sedikit kasus sengketa merek terjadi karena permasalahan pada titik pokok kebaruan sebuah etiket merek.

Tidak sedikit permohonan merek ditolak atau permohonan merek dianggap meniru karena memuat unsur persamaan pada pokoknya pada bentuk, cara penempatan, cara penulisan atau kombinasi antara unsur, maupun persamaan bunyi ucapan dengan merek terdaftar yang sudah ada khususnya pada kelas yang sama atau menyerupai merek terkenal. Oleh karena itu, pelaku usaha atau pemohon merek saat akan mendaftarkan merek, dianjurkan untuk melakukan penelusuran merek yang sudah terdaftar sehingga potensi membuat kebaruan masih relatif besar. Dengan demikian, maka akan mengurangi risiko permohonan merek ditolak oleh pemeriksa merek dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Penelusuran kebaruan yang dilakukan sejak awal membuat etiket merek sebelum pendaftaran juga akan memperkaya inspirasi ide terkait unsur-unsur merek yang sudah didaftar sehingga akan memberikan kesempatan pemohon merek yang baru untuk membuat modifikasi, mengembangkan merek dengan unsur yang unik (memiliki daya pembeda) namun tetap menarik dan mudah dipahami oleh konsumen.

Teknik penelusuran merek disamping membutuhkan pengetahuan hukum seputar merek juga jam terbang dan skill mumpuni dalam menganalisis kebaruan sebuah ajuan merek. Rumah Paten dengan dukungan sumber daya manusia khususnya di bidang analisis hak kekayaan intelektual yang teruji secara kompetensi dan pengalaman, akan menjadi solusi yang tepat bagi pelaku bisnis yang hendak memperoleh perlindungan merek.